Tuesday, August 12, 2008

Rahbar: Republik Islam Raih Keberhasilkan Yang Tak Terbayangkan

Saturday, 09 August 2008



Sample ImageRahbar
atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Khamenei dalam
pertemuan hari ini dengan para pejabat Departemen Luar Negeri, Duta
Besar dan Perwakilan Republik Islam Iran di luar negeri beserta
keluarga mereka, menjelaskan kondisi pemerintahan Islam di Iran yang
terus melangkah ke arah kemajuan dan apa yang harus dilakukan atau
dihindari serta keharusan bagi lembaga diplomasi negara untuk bersikap
cerdas, berani, dan komitmen. Rahbar mengatakan, "Departemen Luar
Negeri harus merefleksikan secara benar harkat dan kebesaran
pemerintahan Islam yang kian besar, dan memanfaatkannya untuk
kepentingan negara."

Seraya menyinggung tentang peluang dan tantangan
yang dihadapi lembaga diplomasi negara, Ayatollah Al-Udzma Khamenei
mengungkapkan, "Anggapan bahwa tidak adanya tantangan berarti
ketenangan dan menguntungkan adalah anggapan yang salah. Sebab, kancah
politik dunia berdiri di atas logika kekuatan, dan bagi pemerintahan
Islam dan rakyat Iran yang menginginkan kemerdekaan berpendapat dan
bergerak berdasarkan prinsipnya, keberadaan tantangan adalah hal yang
wajar dan menunjukkan adanya kemajuan bagi pemerintahan Islam."

Pemimpin
Besar Revolusi Islam menambahkan, "Meski menghadapi banyak tantangan
yang berat selama tiga puluh tahun, namun Republik Islam berhasil
meraih kemajuan yang sangat besar bahkan tidak terbayangkan."

Beliau
lebih lanjut menyebut persatuan nasional, loyalitas kepada prinsip dan
kemajuan dalam ilmu dan teknologi sebagai tiga rukun utama yang
mendukung kekuatan nasional dan menurut Rahbar, rakyat Iran telah
mencapai kemajuan besar di tiga hal tersebut. "Di dalam negeri,
persatuan nasional terwujud dalam bentuk yang sesungguhnya. Persatuan
ini terjalin di tengah rakyat, juga dalam hubungan antara rakyat dan
para pejabat negara. Persatuan seperti ini jarang ada tandingannya di
dunia," tegas beliau.

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menyebut
loyalitas pemerintahan Islam yang semakin mengental kepada
prinsip-prinsip revolusi sebagai hal yang sangat penting dan faktor
yang melahirkan kebanggaan nasional dan kian mengokohnya semangat
bangsa. Beliau mengatakan, "Di bidang ilmu dan teknologi, telah lahir
gerakan keilmuan di negara ini. Sebagian kemajuan sains yang dicapai
negara ini hanya dimiliki oleh beberapa negara terbatas di dunia. Tak
hanya itu, masa yang ditempuh untuk meraih kemajuan ini sangat kecil
dibanding masa yang diperlukan untuk kemajuan sains yang serupa di
negara-negara lain."

Di bagian lain pembicaraannya, Rahbar
mengangkat masalah kian meluasnya pemikiran Islam di dunia dan
keunggulan ide perlawanan terhadap kaum imperialis di Lebanon dan
Palestina seraya menyebutnya sebagai contoh nyata dari keberhasilan
yang diraih pemerintahan Islam di tengah opini umum dan kian agungnya
bangsa Iran di mata dunia. Beliau mengatakan, "Hari ini ketika
berbicara tentang Iran, muncul sebutan ‘kekuatan kawasan' atau ‘adi
kuasa di kawasan', semua itu menunjukkan bahwa berkat loyalitas kepada
prinsip dan cita-citanya, pemerintahan Islam terus melangkah maju."

Pemimpin
Besar Revolusi Islam menekankan bahwa Departemen Luar Negeri harus
merefleksikan kemajuan dan kehormatan yang diraih bangsa Iran serta
memanfaatkannya untuk kepentingan bangsa dan negara. Beliau
menandaskan, "Untuk melaksanakan misi ini diperlukan gerakan yang
cerdas, berani, dan komitmen dari Departemen Luar Negeri. Para Duta
Besar yang berada di front terdepan di bidang diplomasi memikul tugas
yang sangat berat."

Lebih lanjut beliau mengingatkan bahwa para
pejabat di lembaga diplomasi dan kebijakan luar negeri harus
benar-benar meyakini prinsip dan dasar pemerintahan Islam serta gerak
langkah menuju kemajuan. Beliau mengatakan, "Salah satu masalah penting
terkait kebijakan luar negeri di pemerintahan Islam ini adalah
menjadikan masalah dunia Islam dan kepentingannya serta peran dan
kedudukan Republik Islam di dunia Islam sebagai prioritas kerjanya."

Rahbar
menyatakan bahwa dengan bersandar pada prinsipnya dan kemerdekaan serta
kehormatannya, rakyat Iran terus bergerak maju dan gerak maju ini tidak
bisa dihindari. Beliau mengingatkan, "Dalam melangkah jangan takut akan
ancaman dan bahaya, sebab gerak maju ini membawa kebaikan yang murni."

Mengenai
tugas utama Duta Besar Republik Islam di luar negeri, beliau menyatakan
bahwa Duta Besar harus menjalin hubungan dengan orang-orang yang
berpengaruh dan kalangan elit untuk menjelaskan pemikiran murni dan
sikap pemerintahan Islam. Beliau menambahkan, "Sebagai contoh, ide dan
prakarsa Republik Islam Iran dalam masalah Palestina. Prakarsa ini
adalah solusi yang paling logis dan ide yang paling kuat. Sebab Iran
meyakini bahwa nasib negeri Palestina harus ditentukan oleh rakyat asli
negeri itu, baik dari kalangan umat Muslim, Kristen maupun Yahudi. Lalu
silahkan dibentuk sebuah negara yang dilandasi pendapat rakyat
Palestina sendiri."

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut para
Duta Besar sebagai wakil bangsa Iran dan kepada para Duta Besar beliau
menegaskan, "Kalian adalah wakil bangsa yang selama delapan tahun
(perang) resisten dan tegar menghadapi seluruh kekuatan dunia, dan
berhasil keluar dari medan sebagai pemenang. Kalian adalah wakil bagi
masa depan cerah yang menanti bangsa Iran, yaitu dokumen program kerja
jangka panjang 20 tahun. Kalian harus berupaya untuk berjalan sesuai
dengan apa yang diamanatkan dalam dokumen tersebut."

Ayatollah
Al-Udzma Khamenei di bagian akhir pernyataannya menyebutkan bahwa
sebagian besar pegawai di Departemen Luar Negeri adalah tenaga yang
revolusioner, loyal dan berpengalaman. Selanjutnya beliau menekankan
agar dilakukan seleksi yang lebih teliti dalam memilih dan menyerahkan
tugas serta menghindari proses pemilihan yang semaunya atau didasarkan
pada unsur nepotisme. Beliau mengatakan, "Duta Besar dan Perwakilan
Republik Islam Iran harus tegas dalam merefleksikan keagungan dan
kebesaran Imam Khomeini. Wakil pemerintahan Islam harus loyal kepada
prinsip-prinsip yang diyakini bangsa Iran."

Di awal pertemuan
ini, Menteri Luar Negeri Manoucehr Mottaki membawakan laporan kerja
lembaga diplomasi negara selama setahun yang lalu, seraya mengatakan,
"Resistensi yang benar diiringi dengan logika dalam membela hak-hak
bangsa Iran, melewati semua krisis dan konspirasi regional dengan
kepala tegak, berpartisipasi dengan membawa pengaruh dalam setiap
pertemuan regional dan internasional, mengokohkan kedudukan bagi
pemikiran agama, mengupayakan penguatan posisi bagi lembaga-lembaga
multilateral di tingkat internasional, menggagalkan ancaman sanksi atas
rakyat Iran, menjalin hubungan dengan poros kerakyatan, dan memberikan
perhatian pada seksi kebudayaan dan masalah warga Iran di luar negeri,
adalah sebagian dari pekerjaan yang dilakukan lembaga diplomasi negara."

0 komentar:

Post a Comment